foto ist

Maluku ,- Metro Reportase,- Terlantarkannya puluhan pasien jantung yang datang berobat ke poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Haulussy Ambon, dikecam banyak pihak. Bagaimana tidak, justru persoalan manajemen, berimbas kepada pasien.

Hal itu bermula, ketika muncul SK Plt. Direktur RSUD Haulussy Ambon, Yustini Pawa, Nomor 445 tanggal 10 Januari 2022 tentang kelompok staf medis rumah sakit tertua itu, yang tidak mengakomodir dokter ahli jantung dalam SK tersebut.

Ketua Komisi IV DPRD Maluku Samson Atapary yang dihubungi mengatakan, keluhan itu sudah diterima dan sangat miris, dimana kebijakan Plt Direktur Haulussy justru berimbas pada pasien jantung.

Dikemukakan, akhir-akhir ini masalah pelayanan menjadi keluhan pasien. Bahkan pihaknya menerima laporan dari pasien secara langsung.

Semestinya pola tata kelola yang berkaitan dengan manajemen, harus menjadi keseriusan pada direksi, utamanya Plt Direktur sehingga pasien tidak dirugikan, sebagaimana yang dialami puluhan pasien poli jantung.

“Kita memang sudah mendapat informasi ketika pasien ingain memeriksa namun tidak ada dokter jantung. Kita akan agendakan pertemuan untuk membicarakan masalah ini”, jelasnya.

Dikemukakan, sebagai rumah sakit tertua yang sudah membangun peradaban kesehatan di Maluku, dan masuk rumah sakit tipe B, dengan pola pelayanan Badan Layanan Umum (BLU) memiliki 6 prinsip dengan pola tata kelola dan kinerja rata-rata diatas OPD. Ini disebutnya, belum diterapkan dengan baik, sehingga upaya-upaya perbaikan terus dilalukan.

Salah satu upaya yakni kerja sama dengan pihak rumah sakit Bekasi, dimana ikut mendampingi RSUD Haulussy dalam hal pelayanan, termasuk utilitas rumah sakit, yang dimulai dari ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) atau ruang bayi.

Ditempat terpisah salah satu tenaga dokter tertua mengatakan, sebagain manajemen sudah diganti, kecuali Plt Direktur Utama.

“Mereka yang mengisi jabatan itu mesti mampu mengurai benang merah, atau jangan-jangan buta manajemen dan hanya menduduki jabatan tanpa konsep”, ujarnya.

Diakuinya sejak awal, beberapa wakil direktur dan direktur hanya sibuk saling sikut menyikut satu dengan yang lain, bukannya membangun konsolidasi untuk melihat pelayanan bagi pasien dan keluarga yang menjadikan Haulussy sebagai tempat perawatan, baik jalan maupun nginap

(*/ Ongen.Metro Reportase)