Ambon Metro Reportase-com– Situasi geopolitik dunia berdampak langsung pada kebijakan efisiensi dan pemotongan anggaran di tingkat nasional. Kondisi tersebut turut berimbas pada perekonomian daerah, termasuk di Kota Ambon.
Memasuki tahun anggaran 2026, tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah semakin berat dibandingkan tahun sebelumnya. Kota Ambon tercatat mengalami pemotongan anggaran sebesar Rp162 miliar, yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pengurangan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) serta melemahnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengungkapkan bahwa pemotongan anggaran tersebut juga berdampak langsung pada aparatur sipil negara. Khusus pegawai eselon II, TPP yang sebelumnya sebesar Rp6 juta kini berkurang menjadi Rp3 juta.
“Situasi ini tentu menjadi tantangan besar, namun tidak serta-merta membuat kita meratapi keadaan. Kita harus mampu beradaptasi dan menjawab tantangan yang ada,” ujar Bodewin Wattimena.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Ambon saat menghadiri Persidangan Jemaat yang berlangsung di Gedung Gereja Silo, Klasis Pulau Ambon, pada Minggu (8/2/2026).
Bodewin berharap masyarakat tidak hanya berpangku tangan menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Ambon telah mencanangkan sejumlah program strategis, seperti Gerakan Keluarga Menanam dan Gerakan Melaut, yang bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi dan pangan masyarakat.
“Oleh karena itu saya minta program-program ini disukseskan bersama Pemerintah Kota Ambon dan instansi terkait, agar kita tidak terus bergantung pada bahan impor dari luar,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam cabai dan berbagai jenis sayuran, sehingga dapat membantu mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga.
“Pemerintah Kota Ambon akan membantu dengan menyediakan sarana penunjang yang dibutuhkan,” pungkas Wali Kota.
Ongen Metro Reportase-com