Depok,- metro reportase.com,-
Buntut dari kecelakaan kereta api di Bekasi mengakibatkan 16 orang meninggal dunia menjadi sorotan luas dalam pelayanan transportasi publik, pengelolaan di tubuh KAI. Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H. Sudjatmiko mengaku prihatin. Terlebih lagi, saat ini sudah masanya era teknologi menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan.
Dirinya mengungkapkan salah satu solusi mencegah terjadinya kecelakaan melalui langkah jangka pendek dan menengah. Diantaranya dengan penempatan penjaga bersertifikat di perlintasan, peningkatan rambu dan sinyal, serta pemanfaatan teknologi pemantauan visual bagi masinis.
“Ke depan, masinis harus bisa melihat kondisi hingga 1–2 kilometer ke depan melalui sistem monitor yang terhubung CCTV. Ini penting untuk mengantisipasi kondisi darurat,” ujar Sudjatmiko.
Dirinya menyebutkan salah satu solusi mendasar adalah pemisahan jalur. Khusus Jabodetabek, lanjutnya, jalur perlintasan KRL harus double track dan sudah waktunya dipisah, tidak bisa digabung dengan kereta jarak jauh.
“Saat ini di wilayah Bekasi, Tambun, Cikarang, Cibitung masih belum terpisah. Padahal seharusnya sudah ada pemisahan untuk hindari bersinggungan antara KRL dan kereta jarak jauh. Untuk jangka panjang, perlunya pembangunan jalur rel terpisah antara kereta commuter dan kereta jarak jauh, khususnya di lintas Bekasi–Cikarang,”harapnya.
Perombakan pada Sistem Perlintasan
Sudjatmiko juga mendesak adanya perombakan besar-besaran pada sistem perlintasan. Seluruh titik rawan di Jabodetabek harus dibuat tidak sebidang. keterbutuhan Underpass atau Flyover dan Teknologi Canggih dinilai sebagai keterbutuhan mendesak.
“Semua perlintasan tidak sebidang di Jabodetabek harus dijaga ketat atau dibuatkan flyover maupun underpass. Perlu ada palang pintu otomatis dengan sistem yang canggih,”,katanya.
Tidak hanya itu, dirinya juga menilai pentingnya pembaruan teknologi sinyal yang lebih modern dan presisi. Seharusnya, dibuat juga teknologi sinyal dengan sistem canggih, misalnya minimal satu kilometer ke depan sudah bisa terdeteksi ada kendaraan atau hambatan apa pun. Jadi keselamatan bisa lebih terjamin.
“Kita mendorong percepatan program nasional pembangunan 1.800 perlintasan tidak sebidang yang akan didanai pemerintah pusat. Melalui program ini diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan secara signifikan,”katanya.
Meski begitu, ia juga soroti pentingnya kepatuhan pengguna jalan di perlintasan sebidang. Menurutnya, gesekan roda kereta api dengan rel yang mengandung arus DC memiliki daya tarik dan hentakan yang kuat. Sehingga kendaraan yang terjebak sulit untuk lepas dan berisiko kerusakan parah hingga musibah fatal.
” Tentu, harus menyadarkan pola pikir para pengguna kendaraan atau pengemudi untuk benar-benar berhenti ketika sinyal kereta datang,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui,Kecelakaan kereta antara Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Tabrakan dua kereta tersebut telah mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan lebih dari 80 orang terluka, per Kamis (30/04). Masyarakat Tranportasi Indonesia (MIT) menilai isu kecelakaan tersebut adalah, mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu. Selanjutnya, masinis KA Argo Bromo yang diduga lalai melihat sinyal berhenti sehingga tetap melaju dan menabrak KRL.
*Yasinta yustinah