Ambon Metro Reportase,com
Sejarah mencatat kawasan Galala dan Hative Kecil, Kota Ambon, pernah mengalami bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat sekaligus pengingat bahwa wilayah pesisir Ambon memiliki potensi ancaman bencana yang serius.

Dalam sambutannya pada peresmian sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) banjir dan tsunami, Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menyinggung catatan sejarah bencana yang pernah terjadi di kawasan tersebut,sabtu 5 september 2026.

Menurutnya, berdasarkan catatan sejarah, peristiwa gempa dan tsunami besar pernah melanda wilayah Galala dan Hative Kecil, termasuk peristiwa yang terjadi pada tahun 1950.

Jejak sejarah itu hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat. Salah satunya melalui lagu “Banjir Galala”, yang menggambarkan kepanikan, penderitaan, kerusakan rumah dan kampung akibat bencana.

Lagu tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat tentang pengalaman pahit masyarakat menghadapi bencana pada masa lalu.

“Ini cara-cara kita untuk mengingatkan, terus mengingatkan,” kata Bodewin.

Pemkot Ambon menilai pengalaman sejarah tersebut penting untuk dijadikan dasar dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Sebab, bencana memang tidak dapat sepenuhnya dihindari, namun risiko dan dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi serta sistem peringatan dini.

Peresmian EWS banjir dan tsunami di kawasan Galala-Hative Kecil menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat upaya tersebut.

Pemerintah berharap keberadaan sistem peringatan dini, ditambah edukasi dan kesadaran masyarakat, dapat mempercepat respons apabila sewaktu-waktu terjadi gempa, tsunami maupun banjir.

Sejarah bukan sekadar untuk dikenang. Bagi masyarakat pesisir Ambon, sejarah bencana adalah peringatan agar selalu siap menghadapi ancaman yang bisa datang kapan saja.

MR