AMBON,MetroReportase.com – Pemerintah Kota Ambon menyoroti rendahnya minat baca anak-anak sebagai kondisi “darurat membaca” yang harus segera diatasi. Hal itu disampaikan dalam pembukaan Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Se-Kota Ambon Tahun 2026, Jumat (17/7/2026).
Dalam sambutannya, disampaikan dua fakta memprihatinkan terkait budaya baca di Indonesia. Pertama, berdasarkan catatan sastrawan Taufik Ismail, rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku per tahun. Di Belanda 30 buku, Jepang 15 buku, dan Rusia 12 buku.
Sementara di Indonesia angkanya masih “nol buku”. Kondisi ini oleh Taufik Ismail disebut sebagai “Tragedi Nol Buku” dan ironisnya masih terjadi hingga saat ini.
Fakta kedua datang dari data BPS. Tingkat minat baca anak Indonesia hanya 17,66%, sementara minat menonton mencapai 91,67%. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di YouTube, TikTok, Facebook dan Instagram.
“Rata-rata anak usia 13 tahun menghabiskan 4,1 jam per hari di media sosial. Usia 17 tahun mencapai 5,8 jam per hari. Sementara waktu membaca orang Indonesia hanya 30-59 menit per hari. Jauh di bawah standar UNESCO yaitu 4-6 jam per hari,” jelas panitia dalam sambutan.
Untuk menjawab tantangan itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai tahun 2025 mewajibkan siswa membaca buku dan menulis sebagai pengganti LKS. Targetnya siswa menuntaskan minimal 1 buku dalam 1 minggu untuk memperkuat literasi dan mendorong pembelajaran mandiri atau deep learning.
Pemkot Ambon mendorong seluruh sekolah dasar menerapkan gerakan pembiasaan membaca secara masif. Setelah membaca, siswa diminta menceritakan ulang dan menuangkannya dalam bentuk ringkasan, resensi, atau karya kreatif.
Program Library Day setiap hari Kamis juga disarankan, di mana siswa meminjam buku untuk satu minggu dan ditugaskan mencari kosakata baru serta membuat ringkasan.
Pemerintah Kota Ambon juga mengimbau seluruh Kepala Satuan Pendidikan Dasar untuk berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM).
“Dari 246 sekolah dasar di Ambon, baru 115 sekolah yang datanya masuk dalam penilaian TGM 2025. Ini harus kita kejar bersama,” tegasnya.
Lomba Bertutur ini diharapkan menjadi langkah awal membangkitkan kembali budaya bertutur dan budaya baca di kalangan pelajar Kota Ambon.
“Karena dari bertutur anak belajar berbicara. Dari membaca anak belajar berpikir. Dari menulis anak belajar merasa,” pungkasnya.
Ongen
MetroReportase.com